Tampilkan postingan dengan label Nasehat dan Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasehat dan Renungan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Oktober 2011

Peradaban Islam Akan Kembali Bangkit


Para ulama dan ormas Islam meyakini Peradaban Islam yang pernah ada dan pernah jaya itu akan bangkit kembali dimasa yang akan datang. Untuk membangkitkan hal tersebut diperlukan kesadaran dari berbagai pihak terutama umat Islam dan para ulama itu sendiri.

Seperti kita ketahui peradaban Islam itu pertama kali muncul saat jaman Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Pertama kali muncul peradaban tersebut saat sang Nabi hijrah dari Mekkah ke Madinah saat itulah Islam mulai mengalami kejayaan. Saat itu muncul berbagai karya-karya, ide-ide dan konsep kenegaraan.

Berdasarkan hal tersebut, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof Masykuri Abdillah, merupakan salah satu pimpinan ormas Islam yang meyakini peradaban Islam akan bangkit kembali. "Saya yakin akan bangkit kembali," katanya dalam seminar Membangun Peradaban Islam dan Dunia dengan Damai, di Jakarta Islamic Center, Jakarta, Rabu (16/12).

Bangkitnya kembali peradaban Islam tersebut, menurut Masykuri, tentu saja membutuhkan syarat-syarat yang harus dipenuhi. Hal yang paling urgen adalah kesadaran umat Islam terhadap ilmu. "Umat Islam harus tumbuh kesadarannya untuk meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologinya," katanya.

Tak hanya itu, lanjut Masykuri, dengan meningkatnya ilmu pengetahuan tersebut tentu saja akan membangun perekonomian yang baik, sekaligus punya posisi politik yang kuat. "Selama ini kan kita kalah dengan peradaban Barat karena pendidikan kita kalah, ekonomi kalah, didominasi barat," katanya.

Masykuri mengakui untuk membangkitkan kembali peradaban tersebut, dibutuhkan waktu yang lama dan juga harus ada usaha untuk merebutnya kembali. "Yah harus ada kekuasaan ilmu. Kalau kita cepat sadar untuk meningkatkan ilmu pengetahuan maka akan cepat kita mengembalikan peradaban tersebut," tandasnya.

Keyakinan tersebut,imbuh Masykuri, lagi-lagi muncul dari kejayaan masa lalu. Dahulu saja peradaban Islam muncul karena ilmu, belum ada teknologi. Umat Islam juga harus tetap berusaha memberikan kontribusi bagi pembangunan peradban dunia yang adil dan damai, terutama melalui penguatan peran Organisasi Konferensi Islam (OKI).

Tak hanya umat Islam yang harus berjuang, kata Masykuri, ini juga harus didukung oleh tindakan para ulama. "Tentu saja ulama harus memberikan pencerahan, dakwah ulama harus memberikan support baik ilmu agama maupun ilmu umum. Ilmu pengetahuan umum didorong oleh ilmu pengetahuan agama, begitu juga sebaliknya," ujarnya.

Peradaban Islam yang akan bangkit kembali ini juga diyakini Masykuri bisa berdampingan dengan peradaban barat. Asalkan ada koestitensi berdasarkan mutual respect, mutual understanding dan mutual cooperation. "Ini juga ada persyaratannya, harus menempatkan orang lain sebagai teman. Ini agar Islam dianggap peradaban yang dihormati dan tidak dilecehkan, begitu pula sebaliknya," pungkasnya.

Islam Rusak Karena Ulama Rusak

Sementara itu, Intelektual Muslim, Adian Husaini juga menyatakan keyakinannya bahwa Peradaban Islam yang pernah ada dan pernah jaya itu akan bangkit kembali di masa yang akan datang. Namun, menurutnya kerusakan atau hancurnya Islam itu disebabkan oleh rusaknya para ulama kita.

Adian mengatakan Islam diakui oleh Barat bukan hanya sebagai agama, tapi juga sebagai peradaban. Peradaban Islam itu sendiri bukan hanya ada tapi juga pernah berjaya. Bahkan Islam pernah meraih prestasi tertinggi, yakni Piagam Madina. "Itu merupakan konstitusi negara tertulis pertama, konsesi pertama didunia tentang sistem kenegaraan," katanya dalam seminar tersebut.

Namun sayangnya, imbuh Adian, kebanggaan umat Islam terhadap peradaban Islam sendiri kini sudah hilang. Padahal Islam sudah berhasil membangun manusia-manusia yang luar biasa, pemimpin-pemimpin yang cerdas dan sholeh. "Memang peradaban Barat menang saat ini. Tapi karena kegagalan barat dalam mengatur manusia, maka peradaban Islam akan bangkit," katanya.

Peradaban Islam yang pernah jaya itu rusak tak hanya karena kebanggaan masyarakatnya yang kurang, tapi juga karena ulamanya yang rusak. "Sumber kerusakan adalah ulama yang rusak. Kalau ingin mengembalikan peradaban Islam, kembalikan juga fungsi ulama," tandasnya.

Tak hanya itu, kata Adian, umat Islam juga bisa membangkitkan peradaban Islam dengan ilmu. Selama ini hambatannya adalah problem ilmu. "Kalau gagal conclusion of knowledgenya maka akan kacau," katanya.

Buktinya, kata Adian, saat ini saja, pelajaran agama di tingkat SD, SMP, SMA, bahkan perguruan tinggi masih belum menyentuh peradaban Islam."Kelemahannya adalah pemahaman tentang peradaban islam hilang dan juga kebanggan terhadap peradaban Islam hilang," tandasnya.

Untuk membangkitkan kembali peradaban Islam, dibutuhkan kebakitan ilmu, kebangkitan ulama dan juga kebangkitan Islam. "Kalau tidak bangkit itu semua, maka tidak bisa bangkit peradaban Islam," ujarnya. she/taq

By Republika Newsroom

Minggu, 07 Agustus 2011

Pilih Mana, Bersatu atau Kehancuran

Farriq tasud. Begitulah pepatah Arab kuno menggambarkan strategi penaklukan atas suku dan bangsa lain. Pepatah yang berarti “pecahlah, maka Anda akan menguasai” ini bukan ungkapan kosong. Ini kesimpulan dari segudang peristiwa pertarungan antar kelompok dalam sejarah.

Strategi yang sama diterapkan Pemerintah Belanda untuk menguasai Indonesia pada zaman dahulu. Mereka menyebutnya devide et impera atau strategi adu domba. Berbekal strategi itu Belanda berhasil bercokol di Indonesia selama tiga setengah abad. Alangkah cerdiknya sang “pengadu” dan alangkah bodohnya sang “domba”.

Di zaman modern sekarang ini, teori tersebut tetap dipakai untuk menancapkan hegemoni politik suatu negara kepada negara lain, atau dari umat yang satu kepada umat yang lain. Caranya sama, timbulkan perpecahan dan rontokkan soliditas mereka.

Umat “Buih”

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mewanti-wanti hamba-Nya yang beriman untuk selalu menjaga persatuan dengan tidak saling berbantah-bantahan (walaa tanaaza’uu, Al-Anfal [8]: 46), dan tidak bercerai berai (walaa tafarraquu, Ali Imran [3]: 102).

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan hal ini karena akibatnya sangat fatal, yaitu timbulnya rasa gentar dan hilangnya kekuatan (fatafsyaluu wa tadzhaba riihukum, Al-Anfal [8]: 46).

Kalau sudah demikian, umat Islam tak ubahnya bagaikan tubuh tanpa antibodi. Mereka tak mampu menolak virus apapun yang masuk. Akhirnya, mereka menjadi santapan bersama umat lain yang paham, sadar, dan konsisten pada soliditas dan persatuan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan hal ini dalam dialognya bersama para sahabat, sebagaimana Hadits yang diriwayatkan Abu Daud dan Ahmad.

Kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Hampir terjadi keadaan di mana umat-umat lain akan mengerumuni kalian dari berbagai penjuru sebagaimana orang-orang yang makan mengerumuni piring makannya.”

Salah seorang sahabat bertanya, “Apakah karena sedikitnya jumlah kami ketika itu?”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Bahkan pada saat itu kalian banyak jumlahnya, tetapi kalian bagai buih yang terbawa air saat banjir. Sungguh Allah akan mencabut rasa segan yang ada di dalam dada-dada musuh kalian, kemudian Allah campakkan kepada kalian rasa wahn.”

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa wahn itu?”

Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.”
Kondisi yang digambarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini adalah saat-saat di mana eksistensi umat Islam hanya besar secara jumlah, bukan kokoh secara potensi. Mereka seperti buih tak berharga yang mudah terombang-ambing.

Semestinya kaum Muslim saat ini bisa terhindar dari kualitas “buih” dengan cara belajar kepada sejarah kebangkitan dan keruntuhan kaum Muslim dahulu kala.

Dahulu, kebangkitan umat selalu ditandai dengan kemampuan para pemimpinnya dalam menyatukan umat. Sedang keruntuhannya selalu dimulai dari perselisihan.

Umat Islam di Madinah bangkit ke pentas dunia karena Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam berhasil menyatukan kaum Muhajirin dan Anshar serta kelompok-kelompok yang bersengketa. Semangat persatuan itu berlanjut pada masa khulafa’ur rasyidin, hingga umat Islam berhasil membebaskan negara-negara di bawah cengkeraman Romawi dan Persia.
Namun, saat soliditas terkoyak oleh fitnah pada masa Utsman dan Ali, perluasan Islam berhenti (Ahmad Syalabi, Mawsuat al-Tarikh al-Islami: I/585).

Hal yang sama terjadi pada Daulah Umawiyyah yang kekuasaannya sudah mencapai Utara Afrika dan Prancis. Imperium ini pada akhirnya runtuh akibat perpecahan internal, setelah berkuasa selama 91 tahun (41-132H).
Granada sebagai negara Islam terakhir di Spanyol juga jatuh dalam kekuasaan Kristen akibat pengkhianatan Abu Abdillah Muhammad yang rakus ingin merebut kekuasaan saudaranya Muhammad Ibn Sa’d.
Demi ambisinya itu ia menjalin kerjasama dengan raja Kristen, Ferdinand dan Isabella. Ketika Muhammad Ibn Sa’d kalah, Ferdinand berbalik merebut semua kekuasaan pengkhinat itu.

Hal serupa terjadi pula pada imperium penggantinya yaitu Daulah Abbasiyyah. Kekhalifahan ini runtuh setelah bertahan selama 524 tahun (132- 656 H).

Begitu pula dengan Daulah Utsmaniyah yang sempat berkuasa selama enam abad lebih (1299–1923). Kekhalifahan ini jatuh akibat hilangnya soliditas serta disorientasi sebagian tokoh yang mengaku Muslim (Ismail Ahmad Yaghi, al-Dawlah al-Utsmaniyah fi al-Tarikh al-Islami al-Hadits: 210).

Sudah terlalu banyak pengalaman pahit tak terperikan saat kaum Muslim tercerai berai dan lemah tanpa daya. Karena itu kesatuan umat Islam adalah sebuah keharusan. Apalagi secara teologis (syariat), ada sejumlah alasan besar yang mendorong umat Islam untuk selalu membangun dan menjaga persatuan, yakni:

1. Allah memerintahkan bersatu dan melarang bercerai.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, ”Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.” (Ali Imran [3]: 103)

Beriman adalah wajib, tetapi persatuan orang-orang yang beriman juga tidak kalah wajib. Sebab, di dalamnya terkandung kemaslahatan yang mutlak harus diwujudkan dan berujung pada pemeliharaan eksistensi agama (hifzhud-din) itu sendiri.

Sebaliknya, saat umat Islam jauh dari persatuan, konsekuensinya adalah hilangnya implementasi berbagai ajarannya, yang berarti terhalangnya realisasi kemaslahatan yang amat dibutuhkan manusia.
Tidak heran bila al-Qurthubi menafsirkan ayat tersebut dengan menyatakan, ”Sesungguhnya Allah Ta’ala menyuruh untuk bersatu dan melarang dari keterceraiberaian, sebab perpecahan adalah kebinasaan dan persatuan adalah keselamatan.” (al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, IV:159).

Sekalipun perintah bersatu telah begitu tegas dinyatakan dalam al-Qur`an, namun begitu pentingnya hal ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih merasa perlu menegaskan lagi dalam sabda beliau, ”Wahai manusia, kalian harus bersatu dan janganlah kalian terpecah. Wahai manusia, kalian harus bersatu dan janganlah kalian terpecah.” (Riwayat Ahmad)

Perlu dicatat, hendaknya kaum Muslim tidak terpedaya oleh Hadits yang digandrungi kaum liberal, yakni, “Perbedaan (perselisihan) umatku adalah rahmat.” Hadits ini diperselisihkan antara dhaif dan maudhu’.
Al-Suyuthi menyatakan bahwa ia gagal menemukan sanad yang maqbul untuk Hadits ini. Albani juga menyatakan Hadits itu tidak berdasar, tanpa sanad atau maudhu’. Kalaupun dianggap sebagai Hadits, maka lingkupnya hanya pada perbedaan ijtihad dan fatwa, bukan perpecahan umat (al-Sakhawi, al-Maqasid al-Hasanah: 70).

2. Islam tidak akan eksis tanpa persatuan.

Omong kosong bila ada pernyataan bahwa ajaran Islam bisa jalan dengan sendirinya, baik aturan pribadi maupun komunitas, hanya dengan menggantungkan pada kesadaran. Berapa persen penjahat di dunia yang dengan sadar mengakui kejahatannya tanpa proses tertangkap dan terhukum?
Umar Radhiyallahu Anhu mengatakan, ”Sesungguhnya Islam tidak akan eksis secara sempurna tanpa jamaah. Tiada jamaah kecuali dengan pemerintahan. Dan tiada pemerintahan kecuali didukung dengan ketaatan.” (Riwayat ad-Dailami).

3. Adanya amanah Allah yang tak mungkin terlaksana tanpa persatuan.

Amanah Allah Subhanahu Wa Ta'ala untuk menegakkan agama (iqamatud-din) tidak mungkin dapat terlaksana tanpa persatuan umat di bawah satu kepemimpinan. Begitu banyak elemen syariat yang baru bisa terlaksana bila kaum Muslim bersatu. Misalnya, jihad fisik, penegakan hukum pidana, dan perdata Islam.
Sebuah kaidah ushul fiqih menyatakan, “Sesuatu yang di mana sebuah kewajiban tidak sempurna kecuali dengannya, maka hukumnya adalah wajib.”

Mengimplementasikan hukum Allah Subhanahu Wa Ta'ala adalah wajib, sementara hal itu tidak mungkin dapat dilakukan kecuali dengan persatuan. Maka berusaha untuk bersatu membentuk jamaah di bawah satu kepemimpinan adalah wajib, walaupun tentu mencapainya perlu tahapan.

Banyak dalil dan bukti yang mendukung bahwa barisan kebenaran harus bersatu dan menghindar dari perpecahan yang bisa berujung pada kehancuran. Singkatnya, pilihan kita hanya dua, bersatu atau hancur.
Wallahu a’lam bishshawab.

Referensi : Suara Hidayatullah

Sabtu, 06 Agustus 2011

Kebangkitan Umat Islam Adalah Bersatu

Persatuan Umat, Kunci Kebangkitan Islam. Itulah judul sekaligus ringkasan rekomendasi penting dari perhelatan Konferensi Persaudaraan Muslim Dunia yang diselenggarakan PBNU, 19-20 Desember 2009 di Jakarta (Republika, 21/12/09).

Pada kesempatan yang sama, Menkopolkam Djoko Suyanto menyatakan, “Keterbelahan umat Islam didasari oleh rendahnya pendidikan dan tingkat ekonomi mereka. Kondisi itu semakin diperparah dengan munculnya berbagai pertentangan internal umat, totalitarianisme di sejumlah negara dan standar ganda yang ditetapkan negara-negara Barat…” (Kompas, 20/12/09).

Karena itu, mengakhiri tahun 2009 ini, sekaligus mengawali tahun baru 1431 Hijrah, tentu penting bagi umat Islam untuk mengevaluasi (muhâsabah) diri terkait dengan berbagai fakta keterbelahan dan keterbelakangan umat sekaligus memahami akar penyebabnya. Lebih dari itu, umat tentu harus menyadari apa solusi hakiki dari berbagai fakta fâsid (rusak) tersebut.

Cahaya Kesadaran

Harus diakui, persatuan umat yang berlangsung berabad-abad lamanya kini terkoyak. Kaum Muslim yang berjumlah 1,4 miliar lebih seolah tak ada artinya dalam kancah kehidupan dunia. Kaum Muslim dipecah-belah oleh penjajah ke dalam negara-bangsa, lebih dari 50 negara. Mereka kemudian dijadikan bahan bulan-bulanan penjajah.

Kenyataan ini persis seperti yang digambarkan Baginda Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam. dalam sabdanya, “Hampir saja bangsa-bangsa lain menyerang kalian dari berbagai penjuru, bagaikan rayap-rayap menyerang tempat makan mereka.” Para Sahabat bertanya, “Apakah hal itu karena kita pada waktu itu jumlahnya sedikit?” Rasulullah menjawab, “Tidak. Bahkan kalian pada waktu itu banyak. Namun, kalian saat itu bagaikan buih air bah. Sesungguhnya Allah mencabut kewibawaan kalian dan pada waktu yang sama Allah menanamkan wahn dalam hati kalian.” Para Sahabat bertanya, “Apakah wahn itu, wahai Rasulullah? Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR Abu Dawud).

Kondisi keterpecahan itu semakin diperparah dengan hadirnya para penguasa pengkhianat yang menjadi penyambung lidah para penjajah. Bak anjing pudel, para penguasa ini mengabdi kepada tuannya, penjajah Barat, meski harus dengan mengorbankan rakyatnya sendiri.

Konflik-konflik antar anak umat muncul di berbagai negeri tak pernah berhenti. Contoh: kasus perseteruan Sunni dan Syiah di kawasan yang bergolak saat ini, Irak, mencuat setelah serangan Amerika ke negeri 1001 malam tersebut tahun 2003. Sunni dan Syiah tak hanya beradu mulut, tetapi saling menumpahkan darah. Padahal mereka tak pernah bertikai sebelum serangan Amerika itu. Ini jelas tidak lepas dari skenario jahat Barat/AS untuk terus memecah-belah umat Islam.

Di Palestina dua kubu saling beradu. Hamas dan Fatah yang lahir dari kondisi keterjajahan ternyata tak rukun ketika menghadapi penjajah. Fatah justru dekat dengan Israel dan dengan berani mengakui Israel sebagai sebuah negara. Atas arahan Barat, para pemimpin negeri-negeri Islam membebek menyerahkan nasib Palestina di bawah agresor Zionis Israel. Para penguasa pengkhianat umat tersebut malah membuatkan benteng dan penjara besar bagi umat Islam di Palestina, yang menjadikan mereka setiap harinya hidup dengan ‘menu’ derita nestapa di atas tumpukan mayat, darah dan linangan air mata.

Umat juga menyaksikan bagaimana Afganistan dibuat porak-poranda oleh agresor Amerika atas dukungan para penguasa bonekanya yang bercokol di sana. Para penguasa pengkhianat itu bahkan rela menumpahkan darah kaum Muslim yang notabene adalah saudara seiman mereka.

Ketertindasan umat Islam yang minoritas juga menjadi pemandangan yang tidak pernah berakhir. Kaum Muslim di Cina, India, Moro, Rohingya, Kirghistan, dll, termasuk di sejumlah negeri Barat sendiri, saat ini terus-menerus diintimidasi di luar batas kemanusiaan.

Di Indonesia kaum Muslim juga tak kalah memprihatinkan. Partai-partai politik yang berafiliasi ke pemilih Muslim saling bersaing. Alih-alih memperjuangkan tegaknya kehidupan islami dengan berusaha menerapkan syariah Islam, para aktivis partai-partai Islam hanya duduk di kursi parlemen untuk kepentingannya sendiri, paling banter untuk kepentingan partainya. Suara-suara perjuangan Islam nyaris tak terdengar, kecuali kalau terkait dengan kepentingan mereka.

Dalam kondisi seperti itu, serangan Barat terus menusuk ke jantung pertahanan kaum Muslim. Barat melemparkan berbagai jargon dan labelisasi yang menjadikan umat makin terbelah. Barat menyebut moderat kalangan Islam yang mau dekat dengannya. Sebaliknya, mereka melabeli siapapun dari kalangan Muslim yang dengan gigih memperjuangkan tegaknya Islam dengan label fundamentalis, teroris dan radikal. Perpecahan pun tak terelakkan, kendati masih terkendali.

Namun demikian, lambat-laun keadaan sekarang berbalik. Rekomendasi yang dibacakan dalam kegiatan di atas sedikitnya mengisyaratkan bahwa cahaya kesadaran mulai tumbuh dan menyentuh semua level umat Islam, dari kalangan cendekiawan hingga orang awam. Perasaan senasib sepenanggungan memancar dari benak umat. Derita dan nestapa di berbagai penjuru Dunia Islam menjadi pemicu cita-cita bersama: mewujudkan persatuan umat Islam sedunia!

Persatuan Umat: Butuh Khilafah

Persatuan umat Islam sedunia secara spiritual dan politik adalah keniscayaan yang tidak bisa terbantahkan. Pentingnya persatuan umat sedunia ini dilandasi oleh:

(1) aspek normatif (syariah), yakni perintah dalam al-Quran dan as-Sunnah mengenai kewajiban umat untuk bersatu;

(2) aspek historis (sejarah), yakni umat Islam selama berabad-abad bersatu dalam sejarah emas Kekhilafahan Islam;

(3) fakta empirik saat ini, yakni umat memang butuh untuk membangun persatuan dalam menghadapi berbagai tantangan global ke depan.

Aspek pertama: secara normatif umat Islam tidak hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan yang satu (Allah Subhanahu Wa Ta'ala), menghadap ke kiblat yang satu (Ka’bah), berpedoman pada kitab yang satu (al-Quran) serta meneladani Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam. Mereka juga diperintahkan hidup bermasyarakat di bawah kepemimpinan yang satu. Itulah Khilafah Islamiyah yang dipimpin seorang khalifah. Persatuan umat di bawah Khilafah inilah yang merupakan persatuan dan kesatuan yang sesungguhnya. Di bawah seorang khalifah, kepemimpinan Islam sedunia ini akan mempersatukan seluruh negeri-negeri Islam; mengatur dan mengurus mereka dengan syariah Islam; menghimpun potensi dan kekuatan umat Islam di seluruh dunia untuk mengukir kembali kejayaan Islam serta mengembalikan tanah-tanah dan berbagai sumberdaya alam kaum Muslim yang telah dirampas dan direbut secara paksa oleh rezim penjajah. Di bawah Khilafah pula umat ini bisa mengibarkan bendera jihad dan panji dakwah Islam ke seluruh dunia hingga dunia merasakan kebahagiaan hidup dalam naungan Islam.

Sebaliknya, Islam telah melarang perpecahan umat Islam yang akan berakibat pada kegagalan.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala antara lain berfirman:

وَلاَ تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيْحُكُمْ

Janganlah kalian berbantah-bantahan hingga mengakibatkan kalian menjadi gentar dan hilang kekuatan (QS al-Anfal [8]: 46).

Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam. bahkan bersabda:

إِذَا بُوْيِعَ لِخَلِيْفَتَيْنِ فَاقْتُلُوا اْلآخَرَ مِنْهُمَا

Jika ada dua orang khalifah dibaiat (diangkat) maka bunuhlah yang terakhir dibaiat (‘khalifah tandingan’) (HR Muslim).

Hadis di atas menegaskan keharaman lebih dari satu orang imam/khalifah yang memimpin umat Islam. Dalam hadis itu pun terdapat kewajiban umat Islam untuk memerangi khalifah yang dibaiat terakhir untuk mencegah terjadinya perpecahan yang akan mengakibatkan umat Islam tidak bersatu.

Aspek kedua: umat Islam lebih dari sepuluh abad hidup dalam satu kepemimpinan, yakni Khilafah yang dipimpin seorang khalifah. Khalifah menjadi perisai tempat umat berlindung, bahkan menjadi benteng dari segala hal yang akan menghancurkan seluruh sendi-sendi kehidupan mereka. Khalifah juga menjadi penjaga stabilitas kehidupan ekonomi, sosial, budaya, politik dan pemerintahan.

Aspek ketiga: kenyataan empirik saat ini menunjukkan bahwa sejumlah bangsa dan negara mulai cenderung untuk ‘bersatu’ dalam berbagai aspek (ekonomi, militer dan hukum) untuk menghadapi tantangan globlal ke depan. Uni Eropa adalah salah satu contohnya. Gagasan Uni Eropa muncul sejak tahun 1950-an. Setelah melalui proses perundingan yang tidak pernah berhenti, ide besar itu baru terwujud pada tahun 1992, yakni ketika perjanjian ditandatangani di kota Maastrich, Belanda. Artinya, kesatuan Eropa baru terwujud 40 tahun kemudian. Pada awalnya Uni Eropa hanya diikuti oleh 12 negara. Sekarang tidak kurang dari 23 negara ikut dalam Uni Eropa. Mereka didorong oleh rasionalitas, bahwa konsep negara-bangsa (nation state) makin kehilangan daya untuk menghadapi percaturan global saat ini dan pada masa yang akan datang. Karena itu, Uni Eropa menjadi kebutuhan mereka.

Khilafah: Kunci Kebangkitan Umat Islam

Dibandingkan dengan Uni Eropa yang tidak punya landasan historis, teoretis apalagi teologis, gagasan Khilafah Islam jelas memiliki semua landasan untuk tegak berdiri: teologis (akidah), normatif (syariah) maupun historis (sejarah). Ide Khilafah Ini juga sangat rasional. Jika Khilafah Islam tegak maka ia berpotensi menyatukan 1,4 miliar umat Islam di seluruh dunia; menghimpun sebagian besar kekayaan sumberdaya alam yang umumnya di miliki negeri-negeri Islam; bahkan menggalang kekuatan militer/tentara dalam jumlah amat besar.

Potret masa depan umat Islam yang besar inilah yang tidak dikehendaki oleh Barat. Sebab, mereka sadar, jika Khilafah tegak dan mempersatukan umat Islam sedunia, dominasi dan penjajahan mereka akan segera berakhir. Karena itu, umat Islam harus sadar bahwa keterbelahan umat Islam sejak awal memang menjadi cita-cita kaum penjajah Barat dan mereka akan terus membuat skenario untuk memeliharan keterbelahan umat tersebut. Salah satunya adalah dengan terus-menerus memojokkan ide Khilafah sekaligus memerangi kaum Mulsim yang berjuang untuk menegakkan Khilafah.

Karena itu, umat harus sadar, Khilafah adalah kunci persatuan umat Islam sedunia. Khilafah pula yang bakal menegakkan syariah Islam secara total dalam seluruh aspek kehidupan, yang tentu bakal menjadi rahmat bagi seluruh umat manusia.

Walhasil, penting bagi Muslim manapun untuk terus menyuarakan persatuan umat Islam sedunia. Namun, lebih penting lagi umat ini untuk terus menyuarakan, bahwa persatuan umat Islam sedunia tak akan pernah benar-benar bisa terwujud, kecuali dalam satu kepemimpinan Khilafah Islamiyah.

Wallâhu a’lam bi ash-shawâb.

Jumat, 05 Agustus 2011

Nasehat Agar Umat Islam Bersatu

Islam mengajarkan ummatnya untuk menjadikan tali Allah sebagai faktor perekat antara satu sama lain sesama orang-orang beriman. Yang dimaksud dengan tali Allah ialah nilai-nilai yang bersumber dari ajaran sempurna Al-Islam. Islamic values merupakan satu-satunya sebab orang-orang beriman pantas dan layak bersatu dan berjamaah. Percuma kita meneriakkan slogan persatuan ummat Islam bilamana kita menyuruh mereka untuk mengikatkan diri kepada tali selain tali Allah alias ajaran Islam. Allah bahkan mengancam bahwa kondisi tercerai-berai pasti akan muncul bilamana kita berpegang kepada selain tali Allah.

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

”Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai...” (QS Ali Imran ayat 103)

Allah mengancam bahwa segala bentuk persahabatan, persekutuan, koalisi, pertemanan, perkoncoan, aliansi, kemitraan akan berakibat kepada saling bermusuhan kelak di hari berbangkit, kecuali bila menjalin persahabatan yang berlandaskan taqwa kepada Allah semata. Mereka yang menjalin hubungan semata berlandaskan taqwa kepada Allah akan akrab di dunia dan tetap akrab di akhirat.

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

”Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS Az-Zukhruf ayat 67)

Ketika Allah berbicara mengenai persatuan di dalam Al-Qur’an jelas bahwa yang dikehendaki ialah muncunya suatu kesatuan berdasarkan ikatan yang jelas dan hakiki. Allah tidak pernah menyuruh manusia untuk menjadikan hal-hal primordial sebagai sebab atau ikatan jalinan yang menumbuhkan persatuan antar manusia.

Allah memang menyebutkan bahwa manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, namun Allah tidak pernah menyuruh kita untuk menjadikan faktor suku atau bangsa sebagai faktor perekat. Eksistensi suku dan bangsa yang beraneka ragam di tengah pergaulan antar manusia merupakan sebuah fakta yang tak terelakkan, tetapi bukan berarti persatuan berdasarkan kesamaan suku atau bangsa merupakan persatuan yang dianjurkan apalagi diperintahkan oleh Allah maupun RasulNya.

Malah sebaliknya kita temukan sebuah hadits yang mencela persatuan sekedar berdasarkan fanatisme golongan, baik itu golongan berdasarkan kesamaan bangsa, suku atau warna kulit.

لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ

عَلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ

“Tidaklah termasuk golongan kami barangsiapa yang menyeru kepada ashobiyyah (fanatisme golongan). Dan tidaklah termasuk golongan kami barangsiapa yang berperang atas dasar ashobiyyah (fanatisme golongan). Dan tidaklah termasuk golongan kami barangsiapa yang terbunuh atas nama ashobiyyah (fanatisme golongan).” (HR Abu Dawud 4456)

Saudaraku, sudah tiba masanya bagi ummat Islam, dimanapun dan kapanpun, untuk menyadari hal fundamental ini. Kita selama ini telah tertipu bila menyangka masih ada ideologi lain yang mampu mempersatukan manusia. Apapun nama ideologi tersebut. Oleh karenanya, marilah kita kembali meneladani sunnah Rasulullah Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam dalam segala hal, termasuk dalam hal menjalin ikatan persahabatan dan mewujudkan persatuan.

Para penyeru Nasionalisme mengatakan bahwa ideologi Islam adalah ideologi sempit dan primordial karena akan menyebabkan retaknya keutuhan eksistensi bangsa. Maka kitapun mengatakan kepada mereka bahwa justeru ideologi Nasionalisme itulah yang sempit dan primordial. Kenapa? Karena ia hanya sibuk dengan satu bangsa saja dan mengabaikan bangsa-bangsa lainnya.

Itupun masih kita pertanyakan ketulusan dan kesungguhannya memperhatikan nasib bangsa tersebut. Sedangkan Islam datang justeru untuk mempersaudarakan ummat manusia dari aneka latar belakang suku dan bangsa. Lihatlah sejarah, bagaimana Islam telah mempersaudarakan sahabat Umar bin Khattab dari bangsa Arab, Salman Al-Farisi dari Persia, Shuhaib Ar-Rumi dari bangsa Romawi dan Bilal bin Rabah dari Ethiopia. Jika hari ini kita lihat bahwa persatuan ummat Islam sedang tidak tampak, barangkali suatu pertanyaan mendasar perlu diajukan. Benarkah ummat Islam dewasa ini secara jujur telah menjadikan tali Allah saja sebagai perekat untuk mewujudkan persaudaraan dan persatuan di antara mereka satu sama lain?

Jawabnya selalu saja ada niat bermusuhan untuk berhawa nafsu duniawi dan berperang tanpa landasan keagamaan melainkan merebutkan keinginan dari hawa nafsu yang dipermainkan oleh syetan yang terkutuk hingga mengadu domba umat islam agar selalu berpecah belah dan melemahkannya.

Padahal Hadits Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam  sudah mengatakan dengan jelas siapa yang berperang atas nama kelompok dan bukan atas nama agama, mati mereka tidak lebih sebagai orang yang merugi.

“Barang siapa berperang di bawah bendera kebutaan, ia marah karena ashobiyah atau menyeru kepada ashobiyah atau menolong berdasarkan ashobiyah, maka matinya mati jahiliyah.” (HR Muslim).

Saudaraku dengan sederetan kasus ini, tanpa sadar kita sudah terjebak pada perdebatan tidak penting. Padahal dalam Islam kita tidak mengenal Nasionalisme. Nasionalisme adalah berhala ciptaan musuh-musuh Allah agar umat muslim tidak pernah bersatu kembali pasca runtuhnya Khilafaf Utsmani. Agar umat Islam lebih mendahulukan bangsa dan sektarian ketimbang tauhid dan akidah sebagai bukti bahwa tiap muslim adalah bersaudara.

Ketika masing-masing negara mengobarkan semangat kebenaran menurut kacamata negaranya masing-masing, di situlah Islam akan hancur. Karena itu, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam  ketika kali pertama berdakwah di Jazirah Arabia bukan menyerukan bendera bangsa, bukan pula menyeru untuk bersuku, bangsa, dan ras, tapi akidah. Akidah itulah yang menyatukan kita.

Dan kita ketahui, ketika di akhirat nanti pun Allah tidak mengkelompokkan manusia menurut negaranya. Tidak ada lapak nasionalisme ketika kita di yaumil akhir nanti. Yang ada hanyalah apakah kita bagian dari seorang mukmin atau kafir.
bersambung ...Insya'allah